Halloween party ideas 2015



Karya : Devi Meilana T







Aku . . .

Jagad raya tak melihat, Langit tak mendengar, angin tak merasakan.

Merasa jadi pecundang sejati, lebih baik mati!

Begitulah, syair kata yang melekat dipikiranku. Tak logis, kekanak- kanakan, sarat ego. Aku seperti sedang menjalankan aksi sebuah scenario dan memerankan center tokoh. Gadis dalam sangkar atau mungkin  Si Penggayuh Lintang. Barangkali itulah judul-judul sinetron yang “match” dengan way of my life.

Sejak kecil, dan setiap hari aku selalu diceritakan tentang keinginan-keinginannya. Mengharapkanku untuk seperti apa yang ia harapkan. Menjadi pemain catur dengan gelar master usia muda, atlit bulu tangis berperingkat WBF atau salah satu pelajar yang mengikuti students exchange ke China, Jepang bahkan Eropa. Tak lupa, ketika nonton acara siaran langsung upacara Peringatan Hari Kemerdekaan, ribuan kalimat menghujam hariku.  “Seperti itulah jika kau pintar!” berdiri diantara pasukan putih-putih di atas rerumputan Istana Merdeka. Sekolah mereka gratis! Diam seribu bahasa. Aku melanjutkan kembali pekerjaaanku, mencuci piring, belajar, membantu apa saja yang aku bisa.

Minggu pagi Bapak Herjuno Sumantoro datang ke rumah. Sekedar main, ucapnya. Tapi, hingga tengah hari tak kunjung pamit. Sampai jemuran yang tadi pagi aku cuci telah kering. Rupanya, banyak yang Bapak Herjuno bicarakan dengannya. Namun, segera Bapak Herjuno sadar diri bahwa terlalu lama bertamu. Sejurus kemudian, suara deru motor menjauh, sejauh wajahnya ketika memalingkan muka dariku.



Entah kenapa, rasanya canggung di rumah. Aneh, asing, senyap, dingin. Diam adalah aktivitas dengan frekuensi paling banyak. Saling menjauh satu sama lain. Tetapi, belakangan aku tahu kenapa sikapnya sedikit berubah. Rupanya, Pak Herjuno mengalami kenaikan taraf hidup, 180 derajat memukau. Putranya diangkat menjadi tenaga pendidik di salah satu universitas di kota ini. Seorang magister ekonomi, didapat tentu saja dari program scholarship pemerintah Indonesia. Ribuan tetes aku tumpahkan, dalam naungan malam dibawah tujuh langit kelam, dalam tahajud hingga tenggelam.

Aku gagal menempatkan diri dalam tiga besar lulusan terbaik sekolah. Ikhtiar, doa, usaha maksimal dan optimis sudah aku jalani. Memang, keberuntungan belum datang, dan akupun siap menerima konsekuensinya. Mandiri.

******

Surabaya telah menjadi saksi bisu perjuangan hidupku. Semua aku dapatkan di sini. Aku juga telah mempersiapkan untuk menyambutnya pindah ke sini. Rumah berukuran 25 x 40 m lengkap dengan halaman berumput dan pagar tralis.

“Terima kasih, Nak” lirih katanya. Sebuah kalimat ucapan yang telah melegakan hari yang mengganjal, bak tetes air membasahi tanah Mesir, luar biasa!! “Ya, ini untukmu, kulakukan semua apa yang kau inginkan” dalam hatiku membalas. Tapi, aku hanya bisa mengangguk.

Yang bisa kupersembahkan, di sini seorang PNS di kantor perpajakan Provinsi. Kemarin hanya sempat tiga tahun saja kuliah di Jakarta karena dosenku terburu-buru meluluskanku. Takut presentasinya disaingi dan membuat malu ketika di kelas. Ada-ada saja. Aku juga hanya boleh membayar jas almamater saja. Selebihnya, ada yang bersedia  membayari, tentu saja pemerintah. Tak, kusangka aku menjadi adik kelas Gayus Tambunan. Tetapi, hanya itu yang bisa kulakukan. Hanya dapat seperti itu, Ayah. Mungkin bagimu.



Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.